Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Manfaat Narkoba, Psikotropika dan Zat Adiktif Dalam Ilmu Kedokteran

“Katakan Tidak Pada Narkoba” Mungkin selama ini masih banyak orang meyakini kalau narkoba itu berbahaya. Ternyata kajian sudah ada semenjak dahulu menyebutkan jika narkoba, psikotropika dan zat adiktif berbahaya itu sudah dinyatakan dalam undang-undang.

Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Tidak hanya dikenal sebagai narkoba istilah lain yang paling terkenal khususnya oleh Lembaga Kementrian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif.

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis mau pun semi sintesis yang dapat mengakibatkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009).

Semua istilah ini baik naroba atau pun napza mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya mempunyai risiko ketergantungan bagi penggunanya.

Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan khusus untuk penyakit tertentu.

Akan tetapi sekarang ini bahkan sudah ada dari dulu, pemahaman atas pandangan tersebut yang disalahartikan sehingga maraknya penyalahgunaan obat-obatan terlarang oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pada saat ini hampir ratusan lebih jenis narkoba ada di dunia yang di konsumsi pengguna narkoba terutama di negara kita tercinta ini.

Di dasari atas efek yang terjadi terhadap si pemakai, maka narkoba dikelompokkan sebagai berikut :

  1. Halusinogen, yakni efek dari narkoba bisa menyebabkan seseorang mudah berhalusinasi, mengkhayal dengan melihat sesuatu hal/benda yang sebenarnya tidak ada/tidak nyata bila di konsumsi dalam sekian dosis tertentu.
  2. Stimulan yaitu efek dari narkoba yang dapat mengakibatkan kerja organ tubuh seperti jantung dan otak lebih cepat dari biasanya sehingga mengakibatkan penggunanya lebih bertenaga serta cenderung membuatnya lebih senang dan gembira untuk sementara waktu.
  3. Depresan yaitu efek dari narkoba yang dapat menekan sistem saraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa tenang bahkan tertidur dan tidak sadarkan diri.
  4. Adiktif merupakan efek dari jenis narkoba yang memicu ketergantungan. Seseorang yang sudah mengonsumsi narkoba biasanya akan ingin sekali dan ingin lagi karena zat adiktif narkoba mengakibatkan seseorang cenderung bersifat pasif, karena secara tidak langsung narkoba memutuskan saraf-saraf dalam otak.

Pemakai, pengedar dan perantara narkotika semuanya berlaku hukuman dan sanksi, karena narkoba adalah suatu hal yang sangat merugikan tidak hanya bagi orang lain tentunya bagi diri sendiri.

Banyak kalangan dari berbagai latar belakang usia dan jenis kelamin mereka sudah terjerumus dalam pergaulan bebas yang diantaranya terlibat dalam pemakaian narkoba atau penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Apabila terlalu lama ketergantungan narkoba maka lambat laun organ dalam tubuh akan rusak dan jika sudah melebihi takaran maka pemakai atau pengguna bisa saja overdosis obat dan akhirnya kehilangan nyawa.

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) menunjukkan tren yang semakin meningkat dan seakan-akan dunia luar yang serba bebas mendominasi pemikiran masyarakat.

Hanya ada satu jalan yang bisa menyelamatkan mereka dari belenggu ketergantungan narkoba yaitu upaya rehabilitasi yang sudah ada semenjak lama.

Kunci rehabilitasi narkoba adalah melaksanakan secepat mungkin agar nantinya tidak akan ada lagi korban dari keganasan narkoba.

Maka oleh sebab itu, daam penanganan rehabilitasi diperlukan psikiater dan ahli adiksi serta semua pihak dapat menanggulangi masalah tersebut.

Kegunaan Narkota, Psikotropika dan Zat Adiktif Ditinjau Dari Segi Ilmu Kedokteran

Disebabkan risiko yang akan terjadi, maka para medis percaya dan menyarankan supaya tidak melakukan penyalahgunaan obat-obatan terlaran, yang dapat lebih berbahaya ketimbang manfaatnya.

Meskipun demikian, para peneliti medis terus memperoleh sejumlah manfaat kesehatan yang sangat mengejutkan dalam obat yang banyak digunakan untuk tujuan riset.

  • Penjelasan Jamur Beracun dari Segi Ilmu kedokteran

Pernah tidak mendengar atau melihat orang yang mabuk habis menghirup atau mengonsumsi jamur beracun. Ya, jenis jamur ada yang bermanfaat dan ada pula yang beracun. Jamur beracun seolah-olah memasukan racun ke dalam tubuh untuk mendapatkan suatu halusinasi berlebihan.

Padahal jamur beracun itu, jenis narkoba yang dalam proses prosedur riset para ahli bisa dijadikan obat tetapi bagi yang tidak paham cara pengolahannya berakibat patal seperti halnya gejala kondisi mabuk jamur.

Jamur ajaib berisi psilocybin yang bisa menghasilkan halusina berlebihan, bahkan saat di konsumsi dalam jumlah kecil sekali pun.

Menurut kajian riset jika dilakukan dengan prosedur dokter dan ahlinya maka bisa membantu meringankan gejala sakit kepala klaster, gangguan obsesif kompulsif dan depresi.

Hasil kajian menerangkan jika diteliti oleh British Journal of Psychiatry pada tahun 2012 memperoleh bahwa sukarelawan yang memanfaatkan psilocybin sudah ada peningkatan daya ingat, menjadikan substansi sebagai tambahan yang efektif untuk psikoterapi.

  • Narkotika jenis Ekstasi di tinjau dari segi ilmu kedokteran

Ekstrasi juga dikenal sebagai MDMA ekstasi yang merupakan senyawa buatan dan menghasilkan efek halusinasi, perasaan kehangatan emosional dan tingkat energi yang tinggi.

Sifat psikoaktif yang sama membuat ekstasi begitu sangat populer digemari kalangan para aktris bintang film dan biasanya diadakan di acara pesta club malam.

Penelitian lain memperoleh bahwa ekstasi mempunyai sifat antikanker yang sangat kuat, terutama untuk leukimia, limfoma, dan mieloma.

Tahun 2011 para ilmuan dari Universitas Brimingham memperoleh bahwa bentuk ekstasi yang diproses oleh para ahli medis adalah 100 kali lebih kuat dalam menghancurkan sel-sel kanker daripada bentuk ekstasi asli.

  • Jenis narkoba kokain didasarkan atas hasil penelitian dan kajian para medis

Daun tanaman kokain coca (Erythroxylum coca) sudah dimanfaatkan sebagai zat stimulan khususnya di negara Amerika Selatan selama puluhan tahun lamanya. Obat ini asalnya dari tanaman coca, kokain, coke, blow atau serbuk marching bolivia yang sudah dikenal untuk bahan pengobatan medis.

Kokain sebenarnya bisa digunakan sebagai anestesi topikal untuk prosedur bedah karena sifat mati rasa yang bekerja secara cepat. Kokain digunakan sebagai penekan rasa sakit di kulit, dimanfaatkan dalam anestesi (bius) terutama untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan.

Saat dikombinasikan dengan senyawa lain ke dalam persiapan yang disebut TAC, kokain pun bisa mengobati laserasi kulit ringan, sebab obat ini adalah vasokonstriktor yang efektif (menyempitkan pembuluh darah).

  • Penggunaan LSD (Lysergic Acid Diethylamide) bila diteliti secara ilmua kedokteran

LSD (Lysergic Acid Diethylamide) umumnya dikenal sebagai LSD atau jenis asam tertentu yang merupakan senyawa pemicu halusinogen yang telah banyak dipakai oleh beberapa pihak secara bebas akhir-akhir ini.

Hasil penelitian kalau LSD ini disebutkan mampu mengobati kondisi alkoholisme. Salah satu studi dari Norwegia, yang diterbitkan pada tahun 2012 dalam Journal of Psychopharmacology menunjukkan bahwa LSD mencegah alkoholik kambuh selama pengobatan.

  • Efek pemakaian Obat Senyawa Ketamine berdasarkan kajian para ahli

Ketamine sejenis obat penenang khusus untuk hewan sebagai pemanfaatan prosedur operasi untuk hewan.

Ternyata obat ini juga didasarkan atas studi tahun 2012 dari Journal Sains mendapatkan bahwa ketamine ini dapat membantu merangsang pertumbuhan sinapsis di otak, dan efek positif terhadap obat-obat depresi kronis untuk kurun waktu tertentu.

“Respon terapeutik cepat ketamin pada pasien yang resistan terhadap pengobatan adalah terobosan terbesar dalam penelitian depresi dalam setengah abad,” Ronald Duman, profesor psikiatri dan neurobiologi di Universitas Yale, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

  • Tanaman Ganja Ternyata secara kajian tahap perkembangan bisa untuk pengobatan

Tanaman ganja atau marijuana secara penelitian ilmiah selama bertahun-tahun lamanya bisa untuk meredakan nyeri kronis, mencegah PTSD, merangsang nafsu makan, mengontrol mual, mengurangi gejala pembuluh darah mata, mengobati kecanduan opioid dan memperbaiki gejala penyakit Crohn.

  • Kodein termasuk jenis senyawa obat tertentu yang bermanfaat untuk pengobatan.

Kodein merupakan analgesik yang lemah. Kekuatannya sekitar 1/12 dari morfin. Maka dari itu, kodein tidak dimanfaatkan sebagai analgesik, melainkan sebagai anti batuk yang cukup ampuh.

  • Morfin sejenis narkotika dan segala kegunaanya dari segi ilmu kedokteran

Morfin merupakan hasil olahan dari opium atau candu mentah. Morfin mempunyai rasa pahit, berbentuk tepung halus berwarna putih atau cairan berwarna putih.

Senyawa morfin inilah yang khususnya digunakan dalam menghilangkan efek rasa nyeri yang tidak bisa diobati dengan analgetik non narkotika. Morfin pun dapat mengurangi rasa tegang pada penderita yang akan dioperasi (penenang).

  • Heroin alias putaw adalah jenis narkotika yang sebanding dengan pengobatan atas kajian para ahli

Heroin adalah obat bius yang sangat mudah membuat seseorang ketergantungan karena efek begitu kuat sekali. Heroin biasanya ditemukan dalam bentuk pil, bubuk, dan bentuk cairan.

Kebanyakan orang menyalahgunakan jenis obat bius ini untuk hal-hal yang negatif sehingga termasuk dalam kategori narkotika.

  • Zat lainnya yakni methadone sebagai obat analgesia bagi penderita rasa nyeri

Methadone untuk sekarang ini banyak digunakan orang dalam pengobatan ketergantungan opium. Salah satu dari tipe obat yang tergolong analgesik opium.

  • Meperidin sebagai anagesik (pereda rasa nyeri)

Meperidin biasanya dikenal dengan nama petidin, demerol dan dolantin dimanfaatkan sebagai analgesia untuk mencegah diare.

Penggunaan psikotropika dalam bidang kedokteran

Pemanfaatan obat-obatan tertentu yang termasuk pada psikotropika dalam bidang ilmua kedokteran antara lain :

  • Asam barbiturat (pentobarbital dan secobarbitol) sering digunakan dalam menghilangkan efek cemas sebelum di operasi.
  • Amfetamin (dan turunannya) digunakan untuk mengurangi depresi, kecanduan alkohol mengobati parkinson kegemukan, keracunan zat tertentu menambah waspada, menghilangkan efek rasa ngantuk dan lelah dan meningkatkan konsentrasi penuh.

Penggunaan zat adiktif dalam bidang kedokteran

  • Pada dosis tertentu, nikotin dalam rokok ternyata bisa difungsikan dalam memulihkan ingatan seseorang. Hal demikian karena nikotin dapat merangsang sensor penerima rangsangan di otak.
  • Alkohol dapat membasmi semua infeksi bakteri dan membunuh langsung, sehingga biasanya digunakan untuk membersihkan alat-alat kedokteran pada proses sterilisasi.

Hindari penyalahgunaan psikotropika tanpa resep dari dokter agar terhindar dari efek samping berbahaya dan tindak pidana.

Dengan kata lain Psikotropika Narkoba dan Adiktif merupakan zat kimia yang mengubah fungsi otak dan menghasilkan perubahan dalam persepsi, suasana hati, kesadaran, pikiran, emosi, dan perilaku. Oleh karena efeknya yang bisa menimbulkan adiksi atau ketagihan, psikotropika hanya boleh digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau ilmu pengetahuan.

Sumber referensi terkait : 

  • https://www.livescience.com/41277-health-benefits-illegal-drugs.html
  • http://agungrahmatullohjember.blogspot.com/2011/11/manfaat-narkotika-psikotropika-di.html

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.